|
Sex,
Freesex dan Rahasia Kenikmatan ?
Mode dan Sex
Masalah sex memang telah
sangat berperan dalam membangun peradapan manusia. Bahkan dengan
membedakan pandangan suatu negara dengan negara yang lain, tentang
kultur budaya sexnya dapat dibedakan peradabannya.
Dahulu kala, ketika manusia masih
sebagai manusia purba, Sex hanyalah semata-mata bersifat naluriah
saja. Sifat naluriah yang tak jauh berbeda dengan hewan masa kini,
yang tidak mereka sadari hanyalah
sebagai alat
memperbanyak diri
belaka. Inilah jua yang
diakuinya
sebagai peradaban
manusia sampai saat ini, bahwa sifat dasar sex, diakui atau tidak,
semata-mata hanyalah untuk mempertahankan peradaban manusia. Suatu
peradaban yang terus eksis dan berkelanjutan dikarenakan manusia
terus ada dan berkembang (memperbanyak diri).
Namun dalam perkembangan saat ini, sex
tak sekedar untuk mempertahankan peradaban manusia. Sex menjadi
kenikmatan yang banyak diburu orang, tidak peduli dengan masalah
keturunan dan peradaban. Sex
masa kini telah
menjadi simbol kesenangan, hiburan, kenikmatan dan bahkan mempunyai
nilai ekonomis yang tinggi. Jadi
jangan heran kalau vidio-vidio porno, film dan hiburan berbau sex dan
pornografi menjadi diburu dan disukai banyak orang. Di sisi lain,
keserakahan ekonomis telah memanfaatkan mementum itu hanya
untuk mengeruk
keuntungan yang tak kecil. Terjadilah simbiosis yang saling
menguntungkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Pergerakkan dari budaya sex ini, telah
mendorong pola-pola prilaku yang berhubungan dengannya. Jadilah
mereka selalu ingin tampil seksi, feminim dan bahkan tampil
'merangsang'. Yang lebih mengherankan lagi simbol-simbol itu justru
lebih sering dilakukkan oleh komunitas wanita. Lihat saja kiblat mode
dalam cara berpakaian dan prilaku mereka, yang cenderung meniru
budaya-budaya yang dilahirkan para penganut dan pengagung sex.
Padahal kalau dicermati
sebuah mode sangat berkaitan dengan budaya tentang pola prilaku
mereka ( misal freesex), sehingga wajar kalau mereka sering tampil
seronok dan merangsang.
Akan tetapi lucunya, banyak
sebagian komunitas
( bisa juga orang per orangan )
hanya jadi pengikut belaka tanpa mengetahui makna yang dikandungnya.
Sehingga yang terjadi, mereka mengikuti mode tersebut apa adanya,
tanpa disadari mereka telah menebar pesona dengan bangga. Pesona yang
ditimbulkan oleh kekuatan makna yang dikandungnya, walaupun sebagian
besar mereka tak menginginkannya akan dampak dari pesona budaya yang
dikandungnya itu terjadi pada dirinya. Sebuah penolakkan keinginan
dari budaya yang dipahaminya. Sehingga terjadilah pertentangan antara
budaya yang dikandungnya dengan budaya yang dipahaminya. Sungguh aneh
memang, namun ini adalah kenyataannya.
Pesona budaya sex yang tercemin
dalam perkembangan mode dan pola-pola prilaku yang mengikutinya,
telah tidak disadari banyak wanita. Mereka umumnya hanya mengikuti
mode belaka dan tidak mau tahu pesan-pesan yang dibawanya. Pokoknya
mengikuti mode yang semakin mengundang perhatian banyak orang adalah
harapannya. Apalagi yang penting tak mau dianggap ketinggalan jaman
atas sesuatu yang baru menjadi mode, tanpa mau tahu dengan maksud apa
mode itu dikeluarkan. Bahkan ada kecenderungan anti-pati bahkan benci
dengan pola-pola prilaku yang mengikuti mode tersebut.
Maksudnya, mereka mengikuti mode yang ada walau membenci budaya yg
terkandung dalam mode tersebut.
Sungguh aneh
memang ,
atau malah telah terjadi pembodohan ataupun kebodohan membaca
pesan-pesan zaman.
Komunitas
Freesex
Penganut paham free sex seakan
bagai hidup di surga ? Betapa tidak ? mereka bisa
bergonti-ganti
pasangan. Pasangan yang mereka suka dan maui. Kapan saja dan di mana
saja, ketika menginginkannya. Banyak orang yang melihat hidup mereka
dipenuhi dengan bunga-bunga yang penuh kenikmatan. Seakan tiada hari
yang menyesakkan bagi mereka, penuh keceriaan, penuh suka-cita, penuh
semangat dan bergelimang kegembiraan.
Waktu terus bergulir, peradaban dan
pola prilaku mereka terus terbentuk dan terbangun. Terbangun dan
terbentuk sedemikian rupa sesuai kebutuhan dan keinginan mereka.
Kemudian mereka berlomba-lomba untuk selalu mempercantik dan
memperseksi
diri. Mempercantik supaya tidak kehilangan kepercayaan diri dan
selalu mendapat banyak perhatian orang.
Pola-pola prilaku, bersamaan dengan
perkembangan waktu terus terpola membangun diri. Membangun diri
sesuai keinginan-keinginan manusia yang ada di dalamnya. Semua
keinginan dalam komunitas manusia tersebut,
terus berinteraksi membangun pola-pola kebiasaan yang berlaku, sesuai
keinginan sebagian besar mereka
dalam komunitas tersebut. Dalam hal ini Sex menjadi hal yang tidak
ditabukan atau bahkan menjadi hiburan dan kesenangan. Jadilah
komunitas masyarakat tersebut cenderung menganut paham freesex.
Sebuah paham yang telah mempengaruhi semua lini kehidupan mereka.
Sifat dasar
dan makna
sex telah berubah, bukan lagi demi eksisnya peradaban manusia, akan
tetapi sex telah menjadi sarana mencari hiburan dan
kesenangan-kesenangan belaka. Maka dari itu, eksistensi keluarga dan
keturunan telah tidak mempunyai makna sama sekali. Pola hidup menjadi
egoistik dan semaunya sendiri, serta cenderung melawan norma-norma
yang telah ada. Hura-hura dan kesenangan semakin melebihi batas
kewajaran. Lebih lanjut, mereka tinggalkan apa-apa yang telah
menghambatnya; saudara, suami/istri, anak-anak, keluarga, kerabat dan
masyarakat. Demi kesenangan diri, semua itu sudah tidak mempunyai
arti
bagi mereka.
Mereka pergi untuk mencari tempat yang seia-sekata, satu harapan dan
sepaham untuk membentuk komunitas sendiri, walau mungkin tanpa ia
sadari (membentuk dan masuk dalam komunitas tersebut). Jadilah
komunitas yang menjanjikan kesenangan dan kenikmatan tanpa batas dan
sisi, bagai hidup di surga kenikmatan. Sepeti apa yang banyak
dikatakan orang dimana letak surga dunia itu ?
Balada Hidup
Freesex
Sex memang merupakan sifat
naluriah insan manusia, oleh karena itu keingintahuan tentang sex
merupakan dorongan yang sangat manusiawi.
Jadi, keingintahuan terhadap hal-hal yang berbau sex adalah sebuah
kewajaran untuk ditempatkan pada tempatnya. Namun sayang, karena
sifat dasar manusia yang selalu serakah dalam segala-galanya membuat
mereka tidak mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Demikian
sehingga sesuatu yang seharusnya baik menjadi tidak baik karenanya.
Saya
heran dan tak habis berpikir
tentang adanya pendapat, bahwa
perselingkuhan
( juga semua bentuk prilaku yang dianggap menyimpang )
dilakukan hanya supaya ada fariasi dalam hidupnya.
Seakan mereka tidak sadar akan dampak-dampak yang akan ditimbulkan
terhadap diri dan keluarganya, dikemudian hari. Sebuah dampak yang
dapat menjadi perangkap pada dirinya sendiri. Sebuah perangkap yang
tidak menjamin untuk tidak mengulangi lagi. Sehingga yang semula
dianggap menjadi fariasi lama kelamaan, tanpa disadari, telah menjadi
kebiasaan yang
justru merugikan
posisinya sendiri. Ibarat
sebuah rumah (jiwanya) yang pondasi-pondasinya mulai goyah tak
terkendali. Yang kemungkinan besar akan roboh berserekan menjadi
puing-puing.
Atau seorang remaja atau pemuda yang
menganggap tidak ada salahnya mencicipi kekasih pujaan hati. Namun
mustahil mencicipi sekali dua kali saja, pasti ujung-ujungnya akan
ketagihan, keterusan dan terbiasakan. Mereka masih beruntung jika
ternyata mereka akhirnya berakhir di pelaminan. Namun akankah ada
jaminan untuk itu ? Tidak sedikit mereka bernasib tragis ! Dan kalau
ini terjadi, maka masa-masa suram siap menghadangnya. Memang
sedikit sekali kerugian yang akan diderita seorang laki-laki, atau
bahkan nyaris tidak sama sekali. Namun bagaimana dengan seorang
wanita, habislah semuanya ! semuanya telah diberikan; cinta,
kehormatan dan bahkan jiwanya saat itu. Wanita tentu saja lebih
terperosok jauh karena meninggalkan bekas yang tampak nyata
luar-dalam. Lalu bagaimana dengan si laki-laki, Nyaris tanpa bekas
pada fisiknya !
Walaupun begitu, kejadian itu telah
membekas di kedua jiwa insan manusia tersebut. Akankah mereka mampu
menghentikan dorongan yang justru lebih kuat dari pada ketika ia sama
sekali belum pernah melakukannya. Tidaklah semudah yang akan kita
bayangkan ! Dorongan untuk melakukannya justru semakin menggebu,
entah dengan siapa semakin tidak akan terkira, selaras dengan
berjalannya waktu yang terus berlalu. Namun yang jelas bekas kejadian
itu membekas sangat kuat dalam jiwa. Sebuah bekas yang tidak kecil
efeknya. Efek yang mampu mengubah haluan hidup yang dulu syarat
dengan makna. Efek yang mampu menuntun jiwa entah kemana arah
tujuannya. Arah tujuan yang banyak terdapat jebakan-jebakan hidup
yang menunggu dan menjeratnya. Sebagaimana arah tujuan yang terbawa
angin, sebagaimana angin yang tak dapat dikendalikan dan diarahkan.
Arah hidup semakin tak menentu, menunggu waktu mancapai jebakan yang
telah menunggu.
Pada awalnya memang tidak mudah
memulainya. Memulainya untuk melakukkan sesuatu dimana panggilan hati
selalu berusaha mencegahnya. Namun semua sudah terlanjur dan
dilakukkan. Awalnya memang muncul penyesalan. Pemyesalan untuk tidak
mengulangi lagi. Namun semua hanyalah teori, teori yang hanya berlaku
di ujung bibir ini. Entah mengapa mereka melakukannya lagi, yang
mungkin katanya untuk terakhir kali. Namun sayang kenyataan itu tak
pernah terjadi. Kejadian itu terus dan terus terjadi sampai batas
akhir dimana tiada perlu janji itu terjadi di hati. Mereka sudah sama
sekali melupakan janji yang pernah menjadi penyesalan dihati.
Jadilah kebiasaan-kebiasaan tiada
bertepi, seiring waktu yang takkan berhenti. Peluang besar untuk
hinggap dari satu wanita/pria ke kewanita/pria lain menjadi sangat
besar dan lebar. Kalau itu sudah terjadi, maka mereka sudah masuk
dalam perangkap yang telah dibuatnya sendiri. Kemudian logika ini
memunculkan pertanyaan-pertanyaan: Mampukah mereka mempunyai
kehormatan diri ? Mampukah mereka membangun rumah tangga sejati ?
Mampukah ia membangun generasi (anak-anak) yang kokoh dan berarti ?
Mampukah mereka membangun masyarakat yang harmoni ?
Ah..., Persetan ! Dengan semua itu !
Kata hati mereka saat ini. Kata hati yang sudah putus asa menghadapi
kehidupan saat ini. Kata hati yang mungkin tak mampu mereka ungkapkan
saat-saat yang lalu. Tentunya mereka mampu mengungkapkan
pernyataan-pernyataan itu bukannya tanpa sebab dan musababnya. Sebab
dan musabab yang melatarinya. Latar-belakang jalan hidup yang penuh
keputusasaan. Keputusasaan untuk mampu membicarakan lagi tentang
harkat dan martabat dirinya. Ah...! Persetan ! dengan harkat dan
martabat !
Kasihan sungguh kasihan mereka, yang
telah menempatkan jalan hidup penuh dengan keputusasaan dan
kekecewaan. Tapi anehnya kebanyakan orang (mungkin bisa jadi termasuk
diri kita.sendiri) menganggap kehidupan mereka penuh dengan
kesenangan, tawa, canda dan kemikmatan. Tapi benarkah ?
Sungguh mengejutkan ! Ternyata
kehidupan mereka cukup mengerikan dan sangat memprihatinkan, bahkan
nyaris tanpa makna bagai membunuh dirinya pelan-pelan dengan penuh
kesadaran. Dibalik keceriaan, tawa, canda dan berlimpahnya kenikmatan
ternyata ada dendam yang mencengkeram. Dendam masa lalu yang sangat
menyakitkan, entah akibat pengkianatan kedua orang tuanya,
kekasihnya, atau anggapan sebagai anak yang tak diketahui asal
usulnya, dan masih banyak lagi dendam yang telah membuatnya.
Mereka telah memaknai hidup dengan
penuh pengkianatan, kekejaman yang syarat dengan kemunafikan dan
kebohongan. Hatinya hancur luluh bagai tak berbentuk. Jiwanya roboh
rata dengan tanah. Akan tetapi mereka tak mau atau tak punya
keberaniaan mengakhiri hidupnya dan takut tidak mampu membalas
dendamnya. Dendam yang telah membakar jalan hidupnya.
Ia berusaha untuk bangkit dari
kejatuhannya. Tapi ia sadar, tak mungkin bangkit dengan kehancuran
jiwanya, kecuali mencoba mencari jalan kemunafikan yang harus
ditempuhnya. Sebuah kemunafikan diri yang dipenuhi dengan tawa dan
canda. Sebuah kemunafikkan untuk melampiaskan dendamnya. Pokoknya apa
saja yang bisa ia lakukan untuk dapat melampiaskan dendamnya. Dendam
yang serasa sudah meremukkan hatinya. Hingga ia sangat rela dan sadar
melakukan apa saja. Apa saja yang ia mau dan sukai, selama dendam
tersebut terasa terbalaskan. Entah terbalaskan untuk siapa ? yang
jelas ia mampu melakukannya dan ia merasa puas karenanya. Sampai
kapan mereka mampu melakukannya ? Kemana mereka pada akhirnya ? Masa
depannya ? Keluarganya ? Sanak-familinya ? Masyarakatnya ? Pokoknya,
Persetan dengan semuanya ! kata hatinya.
Hidup menjadi penuh kemunafikkan,
kehampaan, dan pembohogan diri. Menjadikan mereka menganggap
keluarga, sanak-famili, dan masyarakat juga telah menjadi munafik dan
pembohong, suka mengatur dan mengurusi jalan hidup orang lain,
padahal mereka membutuhkannya juga. Inilah awal dari terbangunnya
pola prilaku pada diri mereka tanpa nilai, norma, tanpa jiwa, dan
sangat jauh dari makna hidup yang sesungguhnya. Yang ada hanya
kebebasan. Kebebasan melakukan apa saja. Apa saja yang dapat
melegakan hatinya dan rasa terpuaskan batinnya.
Masalah
dan Pengaruhnya
Pada dasarnya mereka ini sedikit
sekali komunitasnya dalam suatu masyarakat. Namun pengaruhnya mampu
menebar pesona kenikmatan tersendiri bagi siapa saja yang melihat dan
mendengarnya. Tindakan-tindakannya saja sudah menggoda orang untuk
menirunya. Komunitas inilah yang berperan menawarkan segala bentuk
tontonan, atraksi, pose, dan semua hal yang berbau pornografi.
Disadari atau tidak merekalah yang telah membangun simbol-simbol sex
yang dapat membuat orang melotot dan mengeluarkan air liurnya.
Dengan dibalut dengan alasan ekonomi,
bisnis, mencari ketenaran dan penghidupan, mereka telah menciptakan
media-media yang mampu menarik perhatian banyak orang dan seakan
menawarkan kehidupan yang penuh kenikmatan. Kegiatan-kegiatannya
telah menebar pengaruh yang tidak kecil terhadap semua orang, yang
memang mempunyai naluri yang sangat kuat untuk mencari tahu semua hal
yang berhubungan dengannya. Bagai menebar gula dan berharap
semut-semut menyemut mngerubunginya.
Orang yang punya latar-belakang yang
suram besar kemungkinan akan ikut-ikutan membangun komunitas seperti
itu. Atau berperan menciptakan korban-korban baru yang masuk dalam
perangkap yang memang telah diciptakannya. Karena latar belakang
mereka mungkin kita bisa memahami keterperosokkan mereka dalam
komunitas tersebut. Namun bagaimana dengan orang-orang yang lugu dan
tidak tahu apa-apa tentang kehidupan tersebut. Yang telah dijebak
dalam kepolosan dan keluguan itu. Mereka seakan dipaksa dan diajarkan
tentang kehidupan yang mungkin tidak sesuai dengannya. Namun karena
kepolosan, keluguannya dan ketidaktahuan tentang kehidupan tersebut,
maka sangatlah mungkin dan mudah memerosokkan mereka ke dunia
tersebut.
Dunia yang mungkin tidak diketahui
kemudian menjadi banyak belajar atau bahkan dipaksakan untuk belajar
tentang dunia itu. Siapa yang tidak terlena untuk belajar di dunia
kenikmatan. Walau awalnya memang sulit namun lama-kelamaan akan
terbiasa juga. Yang lugu dan polos akhirnya mendapati masalah yang
pelik dan kelam. Dan jadilah mereka menjadi bagian dari komunitas
yang dulu tak dikenal dan tak diketahuinya. Namun kemudian seakan
menjadi mengasyikkan dan menyenangkan, ia menjadi sangat berbeda
antara dulu dan sekarang. Sekarang ia jualah yang ikut 'menawarkan'
dan menebarkan pesona bagi siapa saja yang mau dan membutuhkannya,
untuk ikut terperosok masuk dalam dunianya. Demikian seterusnya dan
seterusnya.
Awalnya memang karena dendam,
kebohongan dan kemunafikan pada diri seseorang. Namun akhirnya juga
melahirkan dendam, kebohongan dan kemunafikkan baru bagi orang lain
yang mengikutinya dan masuk didalamnya. Waktu terus selalu berjalan,
dendam dan kemunafikan terus bertambah dan bertambah yang siap
mencengkeram siapa saja yang mau diajak dan membutuhkannya. Untuk
ikut dan masuk ke dunia mereka. Dunia yang penuh tawa, canda, dan
bergelimang kenikmatan, hidup yang penuh dengan kenikmatan ?
Betapa bangganya dan serasa terpuaskan
batin mereka. Yang mampu membuat semua orang melotot dan mengeluarkan
air liurnya. Dengan hanya membacanya, melihatnya dan menontonnya
membuat semua orang akan membayangkan betapa nikmatnya dunia itu ?
Terpuaskanlah jiwanya bagai harimau dan singa mendapat mangsa yang
besar dan muda, yang dapat dilahab bersama-sama.
Hari-hari mereka lalui dengan
entengnya. Dilaluinya dengan penuh kebohongan, dendam dan
kemunafikan, penuh tawa dan canda. Namun sayang keropos di dalamnya,
karena telah hancur hatinya, karena dunia serasa telah mnyesakkan
dada. Tiada akan pedulikan norma dan martabat, karena itu semua
Persetan ! Baginya.
Tentu saja semua terserah Anda semua,
kalau berani mencoba. Mungkin hanya sekali-kali saja. Atau mungkin
untuk yang terakhir kali saja. Namun siapa yang bisa menjaminnya
untuk tidak mengulang kembali. Untuk tidak mencobanya lagi. Untuk
yang terakhir kali. Namun kapan janji di hati ini akan berhenti.
Berhenti untuk tidak di ingkari. Berhenti untuk tidak dikianati dan
mengkianati.
Siapa yang bisa menjamin untuk tidak
semakin jauh terperosok kedalamnya. Siapa yang dapat menjamin untuk
terus dapat menjaga keluarganya, sanak-familinya dan harmoni
masyarakatnya. Siapa yang dapat menjamin bahwa suatu ketika mampu
meninggalkannya (dunia kelam itu). Siapa yang dapat menjamin bahwa
semua itu hanyalah sebagai pengalaman buruk saja. Siapa lagi ? Dan
apa lagi ? Itu semua terserah Anda !
|