|
Kita Suka Buat Masalah !
Kondisi pengguna internet di
Indonesia
Bagian Pertama
Sebelumnya
mohon maaf dengan judul yang sangat pedas ini. Judul ini terpaksa kami angkat
untuk menggugah kesadaran kita, tentang realitas yang dihadapi para netter
kita. Tentu saja kalau ada yang marah, menyanggah, geram dan lain sebagainya,
kami bisa memahami. Tapi, mari kita kuak kenyataan yang ada dalam dunia maya
kita, khususnya para netter. Mereka atau kita semua ( Kebanyakan ) cenderung
buang-buang duit daripada memanfaatkan internet sebagai media yang sepadan.
Maksudnya, selain kita merogoh dan membuang kocek, seharusnya ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk
lebih bisa mengatasi permasalahan bangsa ini. Kita tak bisa menutup mata dengan
keadaan ekonomi akhir-akhir ini. Pengangguran, kemiskinan, kesulitan berusaha
dan banyak permasalahan yang harus kita pecahkan melalui dunia internet. Sebab
bagaimanapun juga dunia internet tetap merupakan potensi yang besar untuk ikut
serta menyelesaikan persoalan - persoalan tersebut.
Pengantar di
atas, sebenarnya di awali kegeraman kami atas prilaku - prilaku kita yang
ternyata tak jauh berbeda dengan orang-orang di atas sana ( para politisi itu )
yang cenderung menciptakan masalah daripada menyelesaikan masalah. Ingat,
persoalan PP 37, masalah laptop, dan banyak lagi prilaku-prilaku mereka yang
cenderung memuakkan dan membuang-buang uang negara, di tengah-tengah
penderitaan rakyat yang semakin sengsara. Mereka selalu berdalih untuk
meningkatkan kinerja dan lain-lain. Namun apa yang telah mereka kerjakan untuk
bisa mengentaskan banyak persoalan bangsa ini. Mereka lebih suka berdebat,
beratraksi cari muka atas nama rakyat, namun bagaimana dengan persoalan lapindo
brantas di sidoarjo, persoalan dana DKP dalam pemilihan Presiden. Belum
persoalan-persoalan lain, seperti korupsi misalnya, kalau mereka punya kemauan
maka hanya butuh waktu singkat untuk menyelesaikan persoalan yang paling
mendasar pada bangsa ini. Namun apa yang terjadi ? mereka banyak diam, malah
mereka mencoba menyelematkan kader-kader mereka yang menganggap penegak hukum '
tebang pilih'. Namun pada dasarnya isu-isu politik murahan itu hanya supaya
korupsi tak bisa dibrantas dan mereka selalu tetap kaya bak seorang raja.
Darimana pendapatan mereka kalau tidak dari KKN. Terus kenapa banyak diam ?
Sebab, kalau kita mau tahu, ya disanalah sebenarnya SARANG KORUPTOR. Terus
muncul sebuah pertanyaan yang tak terbantahkan ! Siapakah yang sebenar yang
telah memporakporandakan bangsa ini menjadi terus terpuruk ? Saya yakin anda
bisa menjawab dengan tepat !
Sudahlah kembali
kepada persoalan kita. Biar orang-orang perusak bangsa itu akan mendapat
ganjaran kelak. Dan kami yakin-seyakinnya bahwa harta mereka tak membawa berkah
sedikitpun, ingat kasus Maria Eva, sebuah cermin yang terkuak dibalik
kasus-kasus yang berhasil mereka sembunyikan, ingat ! mereka ahli berbohong dan
berprilaku licik !
Sudahlah,
kembali lagi ke persoalan kita. Dalam berprilaku, ternyata kita tak jauh
berbeda dengan mereka. Maksudnya, tanpa sadar kita lebih suka berasumsi
berdasarkan teori atau dalil-dali moralitas daripada mencari solusi atas
beberbagai persoalan kita, bahkan bangsa kita. Walau mungkin benar asumsi
tersebut, akan tetapi pada kenyataannya justru membuat masalah daripada mencari
solusi.
Lho kok bisa
! Kita harus menyadari bahwa kita hidup pada sebuah keluarga besar, yaitu
bangsa indonesia. Terus, dunia internet juga termasuk didalam sebuah keluarga
itu, keluarga bangsa. Sehingga tamperamen dan karakter sebuah bangsa juga tak
jauh berbeda dengan siapa yang ada di dalamnya. Untuk itu, kalau kita tak
berhati-hati, maka kita akan menjadi sistem yang sama dengan yang kami sebutkan
yang terdahulu. Yaitu mudah membuat masalah daripada mencari soulusi. Hal ini
bisa kita lihat dari kelompok-kelompok diskusi dan sejenisnya.
Kelompok-kelompok ini cenderung menjadi 'dua tipe' yaitu, kelompok ''peremeh''
di satu sisi dan kelompok ''pembeo'' di sisi lainnya.
Di satu
pihak kelompok 'peremeh' cenderung mencemooh, meremehkan, menjelek-jelekkan,
marah-marah daripada menghargai kemudian megajukan perbedaan pendapat secara
bijak. Di satu pihak, kelompok 'pembeo' tersinggung dan mencari penguatan
pendapat, dengan membeo pendapat terdahulu tanpa reserve dan cenderung permanen
( hubungannya, pokoknya salah dan benar dia bela ) dengan kelompok yang
disukai. Padahal harus diketahu sebuah pertemanan ataupun persahabatan tidaklah
mungkin akan sama pendapatnya selama-lamanya. Atau sahabat dan kerabat tak
selamanya berprilaku benar. Inilah kelemahan 'pembeo' yang membabi buta membela
sobatnya habis-habisan.
Maka.
terjadilah kelompok yang tidak produktif dan masuk akal karena sudah
berlandasan blok dan kelompok yang bertentangan. Yang ada cuma perdebatan yang
nggak sehat dan cenderung tidak rasional dan bermutu. Untuk itu bisa dipastikan
sebuah kelompok diskusi atau sejenisnya kalau tidak mempunyai moderator yang
lihai dan cerdik, maka bisa dipastikan kelompok itu tidak berumur panjang alias
ditinggalkan orang. Memang seorang moderator mempunyai faktor penting dalam
sebuah diskusi atau sejenisnya. Namun, persoalannya kenapa kita tidak menyadari
telah menjadi salah satu tipe kelompok di atas. Sebuah kelompok yang cenderung
membuat masalah dari pada mencari solusi. Kalau ditegaskan lagi yang bermasalah
itu mederatornya atau anggotanya ? Kalau anggotanya, kenapa mesti selalu
menjadi salah satu kelompok tersebut ? Kenapa tidak mengakhiri sifat karakter
yang lebih memunculkan masalah ? Padahal kebanyakkan tipe-tipe yang ada di
masyarakat kita seperti itu ! Siapakah yang akan merugi ! Tentu saja semakin
banyak karakter pengguna internet seperti itu, maka yang ada hanya persoalan dari
pada sebuah produktifitas yang saling menunjang.
Sebuah
produktifitas yang mampu mengangkat dunia internet indonesia lebih produktif
dan semakin menjanjikan.
Dunia
internet kita menjadi semakin tidak Menjanjikan.
Nah ini
topik penting yang akan kami angkat untuk direnungkan para netter kita. Marilah
kita sadari bahwa dunia internet di indonesia sudah bisa dikatakan tidak
berpengharapan secara finansial. Ini berdasarkan fakta semakin lesunya dunia
usaha di dunia maya kita. Memang sudah sejak lama orang luar sering mengatakan
itu, yah dunia maya penuh penipuan dan akal-akalan. Sebuah stikma yang sudah
semakin menterpurukkan dunia ini. Padahal peluang untuk mengadu nasib di sana
sangat berpeluang lebar. Namun sayang para neter kita lebih suka membeo daripada
mencoba meruntuhkan stikma tersebut. Sungguh sangat disayangkan ! Apalagi
menguatnya stikma tersebut tidak luput terkait juga dengan semakin
berkembangnya kelompok-kelompok yang kami sebutkan di depan.
Memang
menjadi sangat disayangkan jika dunia internet hanya menjadi ajang hiburan
semata, di lain pihak negara kita masih sangat terpuruk ekonominya.
Pengangguran merejalela, kemiskinan di mana-mana, dunia usaha secara umum lesu,
namun peluang dunia internet yang sangat terbuka telah dihabisi oleh kelompok-kelompok
yang merasa hebat bagai cendikiawan dadakan, sok suci bagai ulama atau ustad
kesiangan, Keadaan ini diperparah dengan kelompok-kelompok 'peremeh' dan
'pembeo', yang semakin menyumbang banyak persoalan.
Maka jangan
heran, dengan pebisnis-pebisnis yang bermain di dunia maya kita, banyak
diantaranya ( sebagian besar atau malah hampir semua ) hidup rasanya segan dan
matipun rasanya tidak. Ini hampir terjadi di semua lini usaha di dunia maya
Indonesia, bahkan banyak yang berguguran,. Padahal banyak di antaranya cukup
bonafit. Ada juga yang memulai dengan ide-ide kreatif namun ternyata
cepat-cepat diakhiri. Lalu kenapa bisa seperti itu ?
Mari coba
kita lihat dari para pengguna internet, sesuai perkembangannya. Harus diakui
bahwa mereka kebanyakkan para pemula atau paling tidak mereka sekedar
berpartisipasi pada banyak hal dalam berinternet ria. Mereka tentu saja tidak
punya banyak keahlian tentang hal-hal mengenai dunia maya. Akan tetapi potensi
mereka menjadi sangat bisa di optimalkan sepadan dengan perkembangan dunia
usaha dan lainnya. Jangan dianggap bahwa semakin semaraknya dunia internet
paling tidak semakin sebanding dengan semakin semaraknya dunia usaha di
internet. Namun apa yang terjadi sekarang ? Memang warnet-warnet berjamuran
dimana-mana. Di lain pihak dunia usaha di dunia maya semakin lesu dan terpuruk.
Ada Yang aneh dan perlu diluruskan agar supaya semakin memperkokoh dunia
internet kita. Dan teori ini semakin membuktikan bahwa mereka kebanyakan hanya
bersuka ria membuang duit di internet. Terus keadaan ini akan bertahan sampai
kapan kalau dibiarkan berkelanjutan ?
Tidak ada
jalan lain kecuali menggairahkan kembali bisnis jaringan dan sejenisnya !
Sekali lagi
ide ini murni sebuah pemikiran untuk mencoba meruntuhkan kebekuan dunia
internet atas prilaku-prilaku orang-orang yang kurang bertanggung jawab, baik
disadari ataupun tidak. Orang-orang yang merasa dirinya hebat, namun
kenyataannya telah menyumbang semakin banyak pengangguran. Orang-orang hebat
yang di dalamnya penuh kedengkian, mau mudahnya, nggak mau memandang secara
keseluruhan, tapi tampil bak seorang orator jagoan.
Sekali lagi,
tulisan ini bukan iklan, promosi atau ajakan untuk mengikuti apa yang kami
lakukan. Sebab, pemikiran ini muncul dari kenyataan yang selama ini berkembang.
Dan kamipun tak pernah merasa risih diserang atau dilecehkan orang-orang hebat
yang hanya mememunculkan masalah dan persolan. Sebab, terlalu mubazir
menanggapi mereka yang hanya ingin menang dan suka menyepelekan saja. Terlalu
rugi untuk membuang-buang energi dan pemikiran hanya untuk mereka. Namun, akan
lebih berguna untuk memikirkan hal-hal lain yang lebih produktif dan
bermanfaat. Sebab kami berpendapat jika bisnis jaringan dan sejenisnya
njeblok !
Maka bisa dipastikan bisnis lainnya juga akan ikut njeblok !
Kenapa
bisnis jaringan ?
Kita harus
mengakui, para neter kita kebanyakan bukan orang yang punya banyak keahlian,
baik di bidang usaha maupun di bidan lainnya. Kalau toh banyak tenaga terdidik,
sarjana misalnya, merekapun kebanyakan juga nggak bisa berbuat banyak kecuali
banyak yang jadi pengangguran. Ini sungguh realitas dan sebuah kenyataan pada
bangsa ini.
Nah ! Bisnis
atau usaha yang paling mudah untuk dimulai adalah bisnis jaringan. Bisnis ini
tidaklah membutuhkan keahlian khusus, kecuali dorongan tekad untuk belajar dan
berusaha. Menimbang asumsi ini maka masuk akal juga jika kita, para neter yang
punya kepedulian di dunia internet bangsa ini, untk mencoba mengubah paradikma
yang selama ini berkembang di bisnis jaringan. Sebab tanpa peran kita semua
sebagai pemain lama, maka bisa di pastikan dunia internet di indonesia hanyalah
sebagai ajang hiburan semata. Ini pendapat yang tidak kliru, internet sebagai
dunia hiburan. Namun coba anda lihat di sekeliling kita, saudara kita, famili
kita, keluarga kita, sobat kita, masyarakat lingkungan kita, yang ternyata
banyak yang menjadi pengangguran dan tak mempunyai skill apa-apa ! Di
lain pihak, potensi dunia maya sebenarnya sangat bisa didayagunakan untuk
kepentingan mereka. Lalu, apakah mereka kita biarkan saja, atau malah disuruh
berdoa menunggu rejeki nomplok dari langit. Atau kita hanya bisa omong besar
dan membiarkan mereka bertambah mengenaskan untuk jadi pengangguran yang
tergila-gila berinternet ria. Atau berkata, sesuai dengan omongan besar kita ;
'Sudahlah nggak usah ikut bisnis jaringan !' 'kamu pantas menganggur saja'
'Sebab itu bisnis penipuan' 'kamu pasti rugi dan nggak ada hasil'. Sayang kata
'menganggur saja' sering disembunyikan. Juga saya ternyata juga pengangguran,
tidak ditampakkan atau diakuinya. Orang-orang bertipe punya omongan besar
sering mengajak tidak berbuat dari pada melakukan sesuatu. Lagian umumnya orang
yang bertipe lihai berbicara, sangat kecil kemungkinan bisa melakukan.
Karena terbiasa mengasah mulut dari pada di imbangi untuk bertindak. Yah itulah
kenyataanya !
Jadi jangan
heran kalau bisnis semacam ini sudah hancur di Indonesia. Bisnis ini telah
dihancurkan oleh orang-orang yang sok pintar bak pengamat ekonomi-sosial
dadakan. Mereka fasih berteori dan berasumsi bahwa negara maju saja melarang
dan lain sebagainya. Tapi mereka lupa, membeo negara maju, akan tetapi lupa
hidup di negara miskin yang dipenuhi pengangguran. Mereka lebih suka mencari
kambing hitam ( misal, menyalahkan pemerintah ) dari pada mencoba bercermin
pada diri dan lingkungan yang seharusnya bisa dipecahkan persoalannya.
Ada juga
yang tampil bak ulama atau ustad kesiangan, tentang bisnis ini. Haram bung !
Nggak usah bekerja ! Yang penting masuk surga ! Lha wong burung aja bisa makan
kok, nggak repot-repot usaha beginian. Mendingan kamu mati kelaparan dari pada
melakukan sesuatu yang dikawatirkan harom ! Ingat Surga Bung !Yah.. sebuah
pendapat yang tampaknya benar tapi bisa meruntuhkan sebuah peradaban. Peradaban
agama yang seharusnya terus menjadi solusi daripada menjadi persoalan. Lalu
salah siapa, Agama yang luhur itu, atau penganutnya yang merasa menguasai semua
kitab dan tafsirnya ? Manalah mungkin yang salah ajaran agama yang luhur,
kecuali ? Anda jawab sendiri saja !
Mungkin
kalau prilaku, pendapat dan pandangan hidupnya diyakini untuk dijalani sendiri,
itu bukan sebuah persoalan. Itu terserah mereka, wong yang menjalani. Namun
bagaimana kalau nerocos memprovokasi orang lain untuk menjadi dirinya dan
melakukan sesuatu sesuai dirinya. Inilah yang membahayakan dan tak bisa
diterima !
Kembali,
kami mengajak semua neter untuk mencoba merenungkan kembali tentang sebuah
paradikma di bisnis internet yang selama ini berkembang. Apakah semakin
menjanjikan atau semakin tidak ada peluang sama sekali. Bukankah kalau kita
jujur bisa berharap banyak di dunia ini ? Terus di mana kita bisa mendorong
gairah bisnis di internet secara keseluruhan ? Di mana bisnis itu tak
membutuhkan keahlian dan pengetahuan yang cukup. Ini sesuai dengan kondisi
realitas para neter baru yang tampaknya terus berkembang. Akankah kita giring
dengan omongan besar kita untuk jadi pengangguran dan hanya buang-buang duit
belaka ? Ataukah perlu kita giring untruk belajar memulai berbisnis yang paling
sederhana ? Kemudian kalau mereka beruntung bisa mendirikan sendiri ? Tentu
saja semakin mereka berkembang dan produktif bisa di pastikan dunia maya kita
akan menjadi terus semarak dan produktif, tak terkecuali pemain-pemain lama ?
Terus siapa yang akan diuntungkan ? Cobalah untuk refleksi sejenak dengan
prilaku kita selama ini, di dunia maya bangsa kita ! Apa kita perlu menunggu
para politisi kita yang nyata-nyata sudah tak bisa diharapkannya. Atau malah
kita akan meniru mereka ?
Bersambung.... bag. kedua
|