Sungguh ! Bangsa yang Malang !
Bagian kedua
Gambaran kita di bangsa yang Malang !
Bangsa yang malang ! Yah.. sungguh
bangsa yang malang. Kata orang bangsa kita adalah bangsa yang " Gemah
ripah loh jinawi ", pokoknya beruntunglah menjadi warga bangsa ini. Tapi apa
kenyataannya yang terjadi ? Kita kalah jauh dengan malaysia. Apalagi dengan
Singapura ? Singapura sebagai bangsa kecil yang awalnya sangat terbatas
sumberdaya manusia dan alamnya ! Tapi kenapa mereka bisa melesat jauh
meninggalkan kita ? Sebuah hal sepele yang pantas untuk direnungkan.
Kadang-kadang saya prihatin jika seakan-akan kita lebih lancar mengirim buruh
dan pembantu dari pada tenaga-tenaga ahli. Ya, kata orang banyak orang kaya kita
di sana. Lho pertanyaannya, kenapa bisa lebih kaya di negeri orang daripada
negri sendiri. Sungguh aneh memang ! Apalagi sering kita bangga dengan mereka
yang sukses di negri orang. Kenapa tak bisa lebih sukses di negri sendiri ?
Jelas ada yang salah dengan bangsa ini.
Kenapa banyak pengusaha-pengusaha lebih enjoy berusaha di negri orang ? Ada apa
dengan bangsa ini ? Memang tampaknya sebuah persoalan yang sangat sederhana
namun sebenarnya sangat pelik ! Pelik dimana ? Pelik karena kita telah
menyumbang kepelikan tersebut.
Coba anda bayangkan, jika anda hidup di
tengah-tengah masyarakat yang penuh kedengkian, kelicikan, penyunatan, penyuapan,
korupsi, kolusi, nepotisme dan seabrek sifat-sifat yang ujungnya mau kaya dengan
mudah. Mau sukses dengan mudah. Mau gaji besar dengan mudah. Pokoknya jika suatu
masyarakat sudah terbentuk sebuah faham yang mau mudahnya, maka bisa dipastikan
yang akan berkembang dalam budayanya adalah budaya penuh kedengkian, penuh
kelicikan, kebohongan, yang sama persis barusan kami uraikan. Ya kalau
sudah begini, yang pasti muncul kebanyakan adalah orang-orang pengecut, munafik,
wah pokoknya semua penyakit moralitas menjadi tumplek blek di masyarakat ini.
Di lain pihak anda ingin bermain
'gentle',
tidak curang dan lain sebagainya. Tentu saja anda akan menjadi bulan-bulanan
untuk bisa bertahan di lingkungan tersebut. Dan tentu saja anda akan menjadi
loyo untuk bisa berusaha atau melakukan aktifitas di dalamnya. Paling-paling
jika anda menemukan tempat yang bisa bermain secara fair, tentu anda akan lebih
nyaman untuk beraktifitas atau berusaha di tempat yang baru itu. Kecuali anda
tidak tahan dan dengan terpaksa ikut menyesuikan bobrok, mungkin masih bisa
eksis dan beraktifitas. Masalah keberhasilan menjadi bukan diukur bagaimana anda
punya skill profesi yang hebat, akan tetapi bagaimana anda punya kemampuan skill
kelicikan yang mukhtahir.
Namun kebobrokan moralitas hanya bisa
memberi sesuatu yang sifatnya sesaat, dan pada akhirnya semua baru tersadarkan
setelah secara komunal ( komunitas atau masyarakat yang bobrok secara moralitas
) menjadi mudah tersingkir oleh peradapan yang lebih tangguh oleh skill yang
sebenarnya ( sebuah keahlian yang murni bukan atas dasar kelicikan ). Ya itu
tadi, kita tetap menjadi negara miskin dan banyak pengangguran. Sebuah
hasil dari komitmen yang sangat rendah nilainya. Seperti sekarang ini bangsa
kita telah menjadi bangsa yang malang karena perbuatan orang-orang di dalamnya.
Sungguh ! Bangsa yang Malang !
Kembali ke Dunia Maya kita !
Kembali untuk mengajak menggairahkan dunia internet
kita. Terlalu pusing memikirkan bangsa ini yang masih dikuasai drakula-drakula
berpakaian 'gamis' ( pakaian yang sering digunakan orang-orang yang betul-betul
beragama, ini penting, sebab banyak orang punya ilmu agama tetapi secara
moralitas sama saja alias nggak ada beda ). Paling-paling pandapat kami cuma
dipandang sebelah mata, atau malah dianggap angin lalu semata. Wong sudah enak
jadi pejabat, kalu mau jadi pejabat ya begini broerr !
Seperti tulisan pertama kami, sudah selayaknya kita
meruntuhkan stikma-stikma yang mungkin telah kita ciptakan sendiri. Kami akui,
dalam bisnis jaringan memang telah memberi banyak persoalan. Demikian sehingga
stikma itu muncul dalam bisnis tersebut. Memang banyak hal yang perlu diperbaiki
dalam bisnis ini. Kami yakin itu bisa ada dan terwujud. Akhir-akhir ini, dalam
perkembangannya memang menuju ke arah sana. Namun karena stikma dan paradikma
sudah berkembang sedemikian rupa dan kuat, akhirnya sambutanpun sangat sepi
bahkan nyaris tak terespon. Maka wajar saja kalau banyak yang merugi dan gulung
tikar. Karena telah melawan sebuah paradigma dan stikma yang cukup kuat yang
telah dihembuskan oleh orang-orang yang telah kami sebutkan terdahulu.
Marilah kita mencoba mengupas beberapa persoalan di
dunia bisnis jaringan. Yang mudah-mudahan bisa memunculkan semangat baru atas
kebekuan stikma dan paradigma atas bisnis tersebut.
Awalnya baik, namun akhirnya berujung penipuan !
Banyak di antaranya dalam bisnis ini, di awali
dengan itikad baik dalam mengembangkan bisnis. Namun entah karena faktor
menejemen atau hal lainnya, para pengelolanya berlarian, pemiliknya pun
ikut-ikutan tunggang langgang mengikutinya. Inilkah yang sering terjadi pada
bangsa yang malang ini. Awalnya itikadnya baik, namun ujung-ujungnya terkait
dengan penipuan.
Persoalan ini, menurut kami, tidak akan terjadi jika
kita memberi ruang gerak dan kontrol yang sepadan pada mereka. Artinya jika
bisnis itu berkembang baik, tentu saja para pengelolanya bisa bekerja dengan
baik. Namun, jika terjadi goncangan, ya cukup wajar juga kalau mereka jadi
penipu dan pengecut. Ingat ! tentang suatu masyarakat yang masih menyimpan
rendahnya nilai moralitas. Maka wajar kalau masih kita temukan banyak pengecut
dan penipu.
Nah sebenarnya kita bisa memberi ruang gerak yang
sempit bagi orang seperti di atas jika kita bisa berpartisipasi memberi warning
kepada para netter, tentang orang-orang tersebut dengan bisnisnya. Tentu saja
bukan fitnah. Biar orang-orang yang tangguh dan gentle saja yang di beri ruang
gerak untuk ikut serta menggairahkan dunia maya kita.
Apalagi kalau kita tahu adanya kelompok-kelompok
bisnis, apapun juga, yang nyata-nyata beritikat memang kurang baik. Kami yakin,
walau berganti usaha, orang dan pemiliknya tetap bisa kita masukkan dalam daftar
orang-orang berbahaya. Atau kalau perlu sebenarnya kita bisa saja memasukkannya
ke hotel prodeo.
Hanya menguntungkan yang di atasnya ?
Inilah pendapat yang masuk akal, tapi logikianya
sangat menjebak. Bagaimana tidak, kalau semua orang tidak bisa menghargai
informasi ataupun yang lainnya menjadi kurang berharga, ya nggak usah ada
bisnis. Ini mirip dengan pengangguran yang nggak mau jadi buruh karena merasa
iri dengan calon majikannya, karena pendapatannya tidak sebesar majikannya. Aneh
bukan ? Seakan si buruh nggak usah banyak usaha, nggak usah pakai modal, tapi
bisa langsung jadi majikan. Logika macam mana kalau seperti ini terus dibiarkan
berkembang menjadi sebuah paradikma.
Maka jangan heran kalau logika-logika sederhana di
atas tidak di koreksi, jangan salahkan pengangguran jika semua ingin dapat hasil
besar tapi kurang usaha. Inilah yang mungkin juga menjadi bagian dari sebuah
pandangan yang menyedihkan dari sebuah bangsa yang memang malang. Dan dalam
perkembangannya hal itu menjadi pandangan hampir kebanyakkan orang. Dan
seakan-akan mereka berkata ; ah kalau aku mau cuman menguntungkan kamu,
mendingan aku nganggur saja siapa tahu langsung jadi pengusaha ? Heran juga,
belajar aja belum, sudah merasa tahu untuk jadi bos ! Belum logika-logika itu
juga telah merasuki calon pegawai atau karyawannya. Ya akhirnya, menjadi bos
sendirian. Lha wong semua tak mau jadi pegawai. Lalu mana ada negara yang isinya
bos semua ? Kecuali sebuah mimpi yang telah di bangun oleh para pemilik bangsa
yang memang sedang malang !
Persoalan bukan hanya pada bisnis jaringannya !
Harus kita akui, bahwa pada umumnya generasi kita
sudah mempunyai paradigma tentang sebuah usaha atau aktifitas lainnya, yaitu mau
mudahnya dan menghindar yang sulit-sulit. Inilah yang menjadikan generasi bangsa
ini sulit eksis, kecuali harus berkubang dalam pengangguran, setengah
pengangguran ( tampaknya bekerja namun tidak murni ), lebih suka berkhayal serta
bermimpi dari pada memulai, dan masih lagi banyak sikap dan pandangan yang
ternyata telah menjadi jebakan sendiri dalam banyak kesulitan.
Dalam dunia internet juga tak jauh keadaannya. Orang
lebih suka membeo daripada melihat kenyataan yang ada. Orang lebih suka
berkomentar daripada memahami keadaan di sekeliling kita. Seperti banyak
ungkapan yang tersirat seperti berikut; ' Lu jadi pengangguran saja dari pada
menguntungkan orang lain'. Mendingan usaha yang nyata jangan yang maya ' --
padahal nggak dapet kerjaan, atau kalau toh dapat kerjaan gajinya mencekik nggak
cukup, atau malah nggak mau kerja karena gajinya kecil. Dan banyak hal yang
ternyata telah membangun suatu sikap dan pandangan untuk menjadi serba enak dan
serba mudah. Lha , kalau sudah begini, apa yang bisa diharapkan dengan
orang-orang seperti ini.
Anehnya kita tidak sadar telah membangun sikap dan
padangan seperti itu. Hanya karena kita membabi buta menghabisi sebuah bisnis
yang memang perlu banyak diperbaiki, atau sebaiknya kita biarkan dulu sebelum
ada alternatif lain yang lebih solutif. Kita tidak sadar bahwa sikap memperbaiki
sesuatu itu akan menjadi lebih baik dan tentu saja bisa menjadi sebuah solusi.
Dan kita tidak sadar, telah membangun sikap dan pandangan yang menjadikan
generasi kita lembek dan lemah dalam pengharapan. Kita yang hanya mudah
menghabisi tapi tak pernah memberi solusi. Dan kita telah nyata-nyata bangga
dengan asumsi dan logika hebat kita, yang pada akhirnya hanya banyak menyumbang
masalah. Seakan-akan kita bangga dengan banyak pengangguran, yang kemungkinan
besar senasib dan sama dengan pemilik omongan hebat kita. Apalagi saya sering
membuktikan sendiri orang-orang sejenis ini, memprihatinkan secara ekonomi tapi
hebat dalam omongan dan pendapatnya. Yah... lagi-lagi kita ternyata telah hidup
pada bangsa yang ternyata memang bangsa yang sungguh malang.
Sekali lagi persoalan terbesar adalah tidak
semata-mata adanya bisnis tersebut, akan tetapi sadar ataupun tidak sadar kita
telah banyak menyumbang banyak kesulitan yang telah kita buat sendiri. Hanya
Tuhan Yang Maha Bijak yang lebih tahu semuanya !
Mudah-mudahan bermanfaat !
Lihat >>>
Bagian Pertama
|