You KuSaKiTi... karena Anda KuSaYaNgi....

You KuSaKiTi... karena Anda KuSaYaNgi....

You KuSaKiTi... karena Anda KuSaYaNgi....

 
 
     
 
 
Byethost Free Hosting

NetWork BOMING !

teliad - the marketplace for text links
Google

Login Form






Saya lupa passwordnya?
Belum punya Username & Password? Daftar Baru!
Sungguh ! Bangsa yang Malang ! Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Ditulis oleh MasIdan   
Kamis, 10 Januari 2008
 

Sungguh ! Bangsa yang Malang !

 

Bagian kedua

 

 

Gambaran kita di bangsa yang Malang !

 

Bangsa yang malang ! Yah.. sungguh bangsa yang malang. Kata orang bangsa kita adalah bangsa yang  " Gemah ripah loh jinawi ", pokoknya beruntunglah menjadi warga bangsa ini. Tapi apa kenyataannya yang terjadi ? Kita kalah jauh dengan malaysia. Apalagi dengan Singapura ? Singapura sebagai bangsa kecil yang awalnya sangat terbatas sumberdaya manusia dan alamnya ! Tapi kenapa mereka bisa melesat jauh meninggalkan kita ? Sebuah hal sepele yang pantas untuk direnungkan. Kadang-kadang saya prihatin jika seakan-akan kita lebih lancar mengirim buruh dan pembantu dari pada tenaga-tenaga ahli. Ya, kata orang banyak orang kaya kita di sana. Lho pertanyaannya, kenapa bisa lebih kaya di negeri orang daripada negri sendiri. Sungguh aneh memang ! Apalagi sering kita bangga dengan mereka yang sukses di negri orang. Kenapa tak bisa lebih sukses di negri sendiri ?

 

Jelas ada yang salah dengan bangsa ini. Kenapa banyak pengusaha-pengusaha lebih enjoy berusaha di negri orang ? Ada apa dengan bangsa ini ? Memang tampaknya sebuah persoalan yang sangat sederhana namun sebenarnya sangat pelik ! Pelik dimana ? Pelik karena kita telah menyumbang kepelikan tersebut.

 

Coba anda bayangkan, jika anda hidup di tengah-tengah masyarakat yang penuh kedengkian, kelicikan, penyunatan, penyuapan, korupsi, kolusi, nepotisme dan seabrek sifat-sifat yang ujungnya mau kaya dengan mudah. Mau sukses dengan mudah. Mau gaji besar dengan mudah. Pokoknya jika suatu masyarakat sudah terbentuk sebuah faham yang mau mudahnya, maka bisa dipastikan yang akan berkembang dalam budayanya adalah budaya penuh kedengkian, penuh kelicikan, kebohongan, yang sama persis barusan kami uraikan. Ya kalau sudah begini, yang pasti muncul kebanyakan adalah orang-orang pengecut, munafik, wah pokoknya semua penyakit moralitas menjadi tumplek blek di masyarakat ini.

 

Di lain pihak anda ingin bermain 'gentle', tidak curang dan lain sebagainya. Tentu saja anda akan menjadi bulan-bulanan untuk bisa bertahan di lingkungan tersebut. Dan tentu saja anda akan menjadi loyo untuk bisa berusaha atau melakukan aktifitas di dalamnya. Paling-paling jika anda menemukan tempat yang bisa bermain secara fair, tentu anda akan lebih nyaman untuk beraktifitas atau berusaha di tempat yang baru itu. Kecuali anda tidak tahan dan dengan terpaksa ikut menyesuikan bobrok, mungkin masih bisa eksis dan beraktifitas. Masalah keberhasilan menjadi bukan diukur bagaimana anda punya skill profesi yang hebat, akan tetapi bagaimana anda punya kemampuan skill kelicikan yang mukhtahir.

 

Namun kebobrokan moralitas hanya bisa memberi sesuatu yang sifatnya sesaat, dan pada akhirnya semua baru tersadarkan setelah secara komunal ( komunitas atau masyarakat yang bobrok secara moralitas ) menjadi mudah tersingkir oleh peradapan yang lebih tangguh oleh skill yang sebenarnya ( sebuah keahlian yang murni bukan atas dasar kelicikan ). Ya itu tadi,  kita tetap menjadi negara miskin dan banyak pengangguran. Sebuah hasil dari komitmen yang sangat rendah nilainya. Seperti sekarang ini bangsa kita telah menjadi bangsa yang malang karena perbuatan orang-orang di dalamnya. Sungguh ! Bangsa yang Malang !

 

 

Kembali ke Dunia Maya kita !

 

Kembali untuk mengajak menggairahkan dunia internet kita. Terlalu pusing memikirkan bangsa ini yang masih dikuasai drakula-drakula berpakaian 'gamis' ( pakaian yang sering digunakan orang-orang yang betul-betul beragama, ini penting, sebab banyak orang punya ilmu agama tetapi secara moralitas sama saja alias nggak ada beda ). Paling-paling pandapat kami cuma dipandang sebelah mata, atau malah dianggap angin lalu semata. Wong sudah enak jadi pejabat, kalu mau jadi pejabat ya begini broerr !

 

Seperti tulisan pertama kami, sudah selayaknya kita meruntuhkan stikma-stikma yang mungkin telah kita ciptakan sendiri. Kami akui, dalam bisnis jaringan memang telah memberi banyak persoalan. Demikian sehingga stikma itu muncul dalam bisnis tersebut. Memang banyak hal yang perlu diperbaiki dalam bisnis ini. Kami yakin itu bisa ada dan terwujud. Akhir-akhir ini, dalam perkembangannya memang menuju ke arah sana. Namun karena stikma dan paradikma sudah berkembang sedemikian rupa dan kuat, akhirnya sambutanpun sangat sepi bahkan nyaris tak terespon. Maka wajar saja kalau banyak yang merugi dan gulung tikar. Karena telah melawan sebuah paradigma dan stikma yang cukup kuat yang telah dihembuskan oleh orang-orang yang telah kami sebutkan terdahulu.

 

Marilah kita mencoba mengupas beberapa persoalan di dunia bisnis jaringan. Yang mudah-mudahan bisa memunculkan semangat baru atas kebekuan stikma dan paradigma atas bisnis tersebut.

 

Awalnya baik, namun akhirnya berujung penipuan !

 

Banyak di antaranya dalam bisnis ini, di awali dengan itikad baik dalam mengembangkan bisnis. Namun entah karena faktor menejemen atau hal lainnya, para pengelolanya berlarian, pemiliknya pun ikut-ikutan tunggang langgang mengikutinya. Inilkah yang sering terjadi pada bangsa yang malang ini. Awalnya itikadnya baik, namun ujung-ujungnya terkait dengan penipuan.

 

Persoalan ini, menurut kami, tidak akan terjadi jika kita memberi ruang gerak dan kontrol yang sepadan pada mereka. Artinya jika bisnis itu berkembang baik, tentu saja para pengelolanya bisa bekerja dengan baik. Namun, jika terjadi goncangan, ya cukup wajar juga kalau mereka jadi penipu dan pengecut. Ingat ! tentang suatu masyarakat yang masih menyimpan rendahnya nilai moralitas. Maka wajar kalau masih kita temukan banyak pengecut dan penipu.

 

Nah sebenarnya kita bisa memberi ruang gerak yang sempit bagi orang seperti di atas jika kita bisa berpartisipasi memberi warning kepada para netter, tentang orang-orang tersebut dengan bisnisnya. Tentu saja bukan fitnah. Biar orang-orang yang tangguh dan gentle saja yang di beri ruang gerak untuk ikut serta menggairahkan dunia maya kita.

 

Apalagi kalau kita tahu adanya kelompok-kelompok bisnis, apapun juga, yang nyata-nyata beritikat memang kurang baik. Kami yakin, walau berganti usaha, orang dan pemiliknya tetap bisa kita masukkan dalam daftar orang-orang berbahaya. Atau kalau perlu sebenarnya kita bisa saja memasukkannya ke hotel prodeo.

 

Hanya menguntungkan yang di atasnya ?

 

Inilah pendapat yang masuk akal, tapi logikianya sangat menjebak. Bagaimana tidak, kalau semua orang tidak bisa menghargai informasi ataupun yang lainnya menjadi kurang berharga, ya nggak usah ada bisnis. Ini mirip dengan pengangguran yang nggak mau jadi buruh karena merasa iri dengan calon majikannya, karena pendapatannya tidak sebesar majikannya. Aneh bukan ? Seakan si buruh nggak usah banyak usaha, nggak usah pakai modal, tapi bisa langsung jadi majikan. Logika macam mana kalau seperti ini terus dibiarkan berkembang menjadi sebuah paradikma.

 

Maka jangan heran kalau logika-logika sederhana di atas tidak di koreksi, jangan salahkan pengangguran jika semua ingin dapat hasil besar tapi kurang usaha. Inilah yang mungkin juga menjadi bagian dari sebuah pandangan yang menyedihkan dari sebuah bangsa yang memang malang. Dan dalam perkembangannya hal itu menjadi pandangan hampir kebanyakkan orang. Dan seakan-akan mereka berkata ; ah kalau aku mau cuman menguntungkan kamu, mendingan aku nganggur saja siapa tahu langsung jadi pengusaha ? Heran juga, belajar aja belum, sudah merasa tahu untuk jadi bos ! Belum logika-logika itu juga telah merasuki calon pegawai atau karyawannya. Ya akhirnya, menjadi bos sendirian. Lha wong semua tak mau jadi pegawai. Lalu mana ada negara yang isinya bos semua ? Kecuali sebuah mimpi yang telah di bangun oleh para pemilik bangsa yang memang sedang malang !

 

Persoalan bukan hanya pada bisnis jaringannya !

 

Harus kita akui, bahwa pada umumnya generasi kita sudah mempunyai paradigma tentang sebuah usaha atau aktifitas lainnya, yaitu mau mudahnya dan menghindar yang sulit-sulit. Inilah yang menjadikan generasi bangsa ini sulit eksis, kecuali harus berkubang dalam pengangguran, setengah pengangguran ( tampaknya bekerja namun tidak murni ), lebih suka berkhayal serta bermimpi dari pada memulai, dan masih lagi banyak sikap dan pandangan yang ternyata telah menjadi jebakan sendiri dalam banyak kesulitan.

 

Dalam dunia internet juga tak jauh keadaannya. Orang lebih suka membeo daripada melihat kenyataan yang ada. Orang lebih suka berkomentar daripada memahami keadaan di sekeliling kita. Seperti banyak ungkapan yang tersirat seperti berikut; ' Lu jadi pengangguran saja dari pada menguntungkan orang lain'. Mendingan usaha yang nyata jangan yang maya ' -- padahal nggak dapet kerjaan, atau kalau toh dapat kerjaan gajinya mencekik nggak cukup, atau malah nggak mau kerja karena gajinya kecil. Dan banyak hal yang ternyata telah membangun suatu sikap dan pandangan untuk menjadi serba enak dan serba mudah. Lha , kalau sudah begini, apa yang bisa diharapkan dengan orang-orang seperti ini.

 

Anehnya kita tidak sadar telah membangun sikap dan padangan seperti itu. Hanya karena kita membabi buta menghabisi sebuah bisnis yang memang perlu banyak diperbaiki, atau sebaiknya kita biarkan dulu sebelum ada alternatif lain yang lebih solutif. Kita tidak sadar bahwa sikap memperbaiki sesuatu itu akan menjadi lebih baik dan tentu saja bisa menjadi sebuah solusi. Dan kita tidak sadar, telah membangun sikap dan pandangan yang menjadikan generasi kita lembek dan lemah dalam pengharapan. Kita yang hanya mudah menghabisi tapi tak pernah memberi solusi. Dan kita telah nyata-nyata bangga dengan asumsi dan logika hebat kita, yang pada akhirnya hanya banyak menyumbang masalah. Seakan-akan kita bangga dengan banyak pengangguran, yang kemungkinan besar senasib dan sama dengan pemilik omongan hebat kita. Apalagi saya sering membuktikan sendiri orang-orang sejenis ini, memprihatinkan secara ekonomi tapi hebat dalam omongan dan pendapatnya. Yah... lagi-lagi kita ternyata telah hidup pada bangsa yang ternyata memang bangsa yang sungguh malang.

 

Sekali lagi persoalan terbesar adalah tidak semata-mata adanya bisnis tersebut, akan tetapi sadar ataupun tidak sadar kita telah banyak menyumbang banyak kesulitan yang telah kita buat sendiri. Hanya Tuhan Yang Maha Bijak yang lebih tahu semuanya !

 

Mudah-mudahan bermanfaat !

 

Lihat  >>>  Bagian Pertama

 

 

Comments
Add NewSearchRSS
Write comment
Name:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 

Powered by JoomlaCommentCopyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved.Homepage: http://cavo.co.nr/

Terakhir kali diperbaharui ( Sabtu, 10 Januari 2009 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >

NetWork DUKUN !


Ebook Gratis !!!

 

 Locations of visitors to this page

 
 
site statistics
Hari ini40
Kemarin...134
Byethost Free Hosting

Pesan/Iklan Gratis !



Free chat widget @ ShoutMix